Senin, 30 November 2009

Kisah Para Empu Komik

Bagian dari kejayaan

Para komikus tersebut menjadi bagian dari sejarah kejayaan komik nasional sebagai tuan rumah. Djair dikenal dengan karyanya, seperti Jaka Sembung, dan membuat komik mulai pertengahan tahun 1960-an.

Begitu pula dengan MAN dan Gerdi WK.
Gerdi WK mengatakan, komik Indonesia sempat menjadi tuan rumah. Namun, pertengahan tahun 1974 mulai menurun sampai matinya tahun 1990-an. Gerdi sendiri membuat komik untuk penerbitan di koran sejak tahun 1965. "Sekarang boleh dibilang nganggur, menggambar cuma untuk melatih tangan. Dulu sih bisa hidup dari komik. Sekarang tidak bisa," ujarnya.

Gerdi memberi gambaran, di masa silam satu jilid sebanyak 64 halaman dia mendapatkan Rp 100.000. Saat itu harga emas satu gram Rp 250 perak, jadi satu jilid bisa untuk membeli 400 gram atau sekitar setengah kilogram emas. Gerdi malah sempat mendapatkan honor tetap.

Raden Ahmad Kosasih, komikus gaek yang terkenal lewat komik perwayangan, sempat bercerita tentang zaman kejayaan itu ketika ditemui di kediamannya di kawasan Rempoa.
RA Kosasih pertama kali dikenal lewat karyanya, Sri Asih, yang diterbitkan oleh Penerbit Melodie di Bandung tahun 1954. Setelah itu, RA Kosasih populer dengan karya seperti Mahabharata, Ramayana, dan Siti Gahara.

Penghargaan terhadap komik terbilang lumayan, kata Kosasih. "Imbalan komik itu sampai lima kali lipat gaji saya di pertanian (sekarang Lembaga Penelitian Hama Tanaman). Waktu itu gaji saya Rp 350 tahun 1950-an. Beras masih seperak setengah seliter. Kalau tidak salah, dari membuat komik, saya dapat sekitar lima kali lipatnya.

Itu mula-mula, setelah itu dinaikkan sampai dapat Rp 4.000 satu bulan. Sama dengan gaji menteri. Apalagi saya sebetulnya membuat komik karena senang bukan sekadar uangnya," ujar RA Kosasih yang kemudian memilih berhenti dari pekerjaan tetapnya dan hidup dari komik.

Saat ini Gerdi, RA Kosasih, Djair, dan Mansyur Daman tidak lagi menyimpan satu pun naskah asli karya atau mengoleksi karya pribadi. Alasannya beragam dan kadang menggelitik.

Djair mengatakan, sebagian besar naskahnya sudah menjadi milik penerbit lantaran dibeli putus. Waktu itu mesin fotokopi juga masih langka. Sebagian habis dimakan rayap, dipinjam produser di film. "Ada yang dipinjam pacarnya anak saya, terus enggak balik. Saya juga tidak menyimpan komik sendiri. Biar yang baca orang lain saja," ujarnya sambil tersenyum.

Begitu juga Gerdi WK. Dahulu, pembuatan komik biasanya dengan memotret karya asli kemudian dicetak. "Setelah dipotret biasanya dibuang dan dipungutin sama anak-anak yang sedang belajar menggambar," ujarnya.

Barangkali itu sekaligus sebagai pertanda bahwa masa lalu tinggal menjadi sejarah yang dihargai dan dijadikan pelajaran, tetapi saatnya mengisi dengan karya baru. Seperti semangat para empu komik itu.

Dari : http://images.sudarjanto.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/R16@egoKCDMAADZSZP01/Kisah%20Para%20Empu%20Komik.pdf?nmid=68836833

Tidak ada komentar:

Posting Komentar