Senin, 30 November 2009

RA Kosasih: Tak Lagi Bisa Menggambar


Kamis, 9 Juli 2009 | 19:28:51
RA Kosasih: Tak Lagi Bisa Menggambar

Annida-Online--Rumah sederhana di Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan itu seperti tak berpenghuni. Senyap melingkupi. Cat tembok yang kusam, rumput di halaman pun mulai meninggi. Untunglah, ada seorang pemuda bercelana pendek muncul dari arah jalan raya, ramah menyapa. "Mencari siapa?" tanya Adin Nendra, mahasiswa semester akhir FISIP UMJ Ciputat, cucu RA Kosasih.
Rupanya benar itu rumah RA Kosasih (90), maestro komik yang kondang dengan komik-komik wayangnya. Untuk Sobat Nida yang masih remaja, barangkali nggak begitu kenal sama beliau. Tapi coba deh tanya om/tante atau orang tua kita, insya Allah mereka tahu dan bisa jadi termasuk 'anak-anak' yang 'dibesarkan' oleh karya-karya RA Kosasih. Sebelum komik wayang terkenal, telah lahir lebih dulu superhero pertama Indonesia dari goresan tangan dan imajinasi pria kelahiran Bogor, 3 April 1919 itu. Sebut saja Sri Asih (1952), Siti Gahara, Gundala Putra Petir, dan banyak lagi.
Hemm, apa kabar Eyang Kosasih? Kata Adin, sang cucu satu-satunya itu, 'Akung' (sebutan untuk kakek, dari kata Eyang Kakung, red) sehat. Memang, belum lama ia mesti menjalani perawatan di rumah sakit di Bintaro lantaran sakit jantung. Nida pun dipersilakan menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, Akung Kosasih pun datang dan lantang mengucap salam; 'Assalamu'alaikum'.
Aih, tak seperti yang Nida bayangkan, ternyata Akung Kosasih segar, penglihatannya awas di bawah lebatnya alis yang seluruhnya telah memutih. Kelihatan fit, meski sesekali ia terbatuk. Pendengarannya pun oke, hanya saja butuh kesabaran untuk berbincang dengan Akung Kosasih. Maklumlah, daya ingat beliau sedikit terkikis oleh usia. Pada Annida, Akung Kosasih banyak cerita perjalanan kariernya. Berawal sebagai ahli gambar hama/tumbuh-tumbuhan di jawatan pertanian di Bogor (zaman penjajahan Belanda dan Jepang), lantas ikut semacam sayembara menggambar komik yang diadakan sebuah penerbit di Bandung.
"Zaman itu sudah ada komik-komik strip di koran, komik heroik dari Amerika juga banyak. Tapi komik Indonesia yang dibukukan belum ada. Sampai Bapak baca iklan di koran, siapa yang punya cerita/gambar komik mau dibukukan sama penerbit yang juga toko buku Melodi di Bandung. Bapak kirim tuh komik Sri Asih, alhamdulillah diterima lalu diterbitkan," tutur RA Kosasih.
Akung Kosasih mengaku, karakter Sri Asih memang mengekor Wonder Woman.
"Ya ceritanya tentang jagoan perempuan yang bisa terbang. Kisah sama setting-nya dilokalkan, cerita kampung-kampung kita aja, tapi gambarnya dibikin seperti wayang orang," lanjutnya.
Untunglah, karya perdana itu langsung laku dan berbuntut lahirnya ratusan karya lain. Kosasih paling suka dengan komik wayangnya yang bersumber dari kisah Mahabharata dan Ramayana.
"Bapak gambar komik dengan sisipan filsafat yang mendalam. Isinya mengajarkan yang jahat akan kalah, yang baiklah pemenangnya. Ternyata ini disukai juga sama pembaca. Ada juga yang merujuk cerita tradisional terutama dari sastra Jawa dan Sunda. Komik silat yang terpengaruh cerita Tionghoa juga ada, tapi nggak terlalu banyak."
Menurut pengakuan Kosasih, sampai sekarang ia masih menerima royalti dari komik-komiknya yang dicetak ulang. Dari situlah, ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari di samping dibantu pula olah putri tunggalnya, Yudowati Ambiyan (50) dan menantu yang tinggal serumah dengannya. Kabar mengenai kesulitan biaya pengobatan di rumah sakit, ditepis oleh sang cucu.
"Nggak benar itu. Untuk biaya Akung berobat dan perawatan, kami dibantu sama penggemar-penggemar Akung. Malahan ditawari, Akung mau berobat di rumah sakit mana," ujar Adin, yang menemani obrolan Nida dan kakeknya.
Meski Kosasih termasyur dengan gambar-gambarnya, tak ada keturunan Kosasih yang mewarisi bakatnya. Dan sejak 'pensiun' dari dunia komik di tahun 1990-an, ia tak punya niat untuk menggambar lagi.
"Nggak bisa, tangan Bapak gemetaran kalau dipakai buat nggambar. Kalau hasilnya jelek, 'kan nanti nggak ada yang mau pakai gambar Bapak," ungkapnya.
Menggambar tidak, merangkai cerita pun enggak. Hari-hari Kosasih diisi dengan ibadah dan istirahat saja.
"Mau olahraga juga nggak kuat. Sudah, tiduran saja di kamar, sesekali baca tapi ya paling-paling cuma koran," lanjut Kosasih, yang sering didatangi penggemarnya yang kini telah menjadi pejabat dan orang-orang sukses. O ya, RA Kosasih pun selalu menyediakan waktu di hari Sabtu dan Minggu bagi penggemar atau koleganya.
"Belum lama Anton (pemilik toko buku online yang khusus menjual karya-karya unik dan antik) datang. Terus siapa itu penerbit yang dari Bandung sama Semanggi?" Kosasih mau cerita banyak, tapi lupa.
Nggak cuma tamu lokal, suami dari Almarhumah Lili Karsilah (meninggal tahun 2004 di usia 80 tahun), juga beberapa kali menerima tamu komikus dari Jepang lho.
Mengenai komik Jepang yang sekarang ini banyak digandrungi generasi muda kita, Kosasih berkomentar itu bagus. "Bapak rasa bagus, cucu juga suka baca komik Jepang kayak Doraemon itu. Zaman berubah ya, mengikuti selera pasar. Tapi dukungan pemerintah Jepang sama dunia komik baik. Nggak kayak pemerintah kita, komik di sini dianggap belum perlu. Harusnya pemerintah membantu untuk kemajuan, misalnya mendatangkan mesin-mesin yang mendukung, program bikin animasi," harapnya. [Esthi]

Dari : http://www.annida-online.com/annida_v_1/berita.php?id=48

Tidak ada komentar:

Posting Komentar