Senin, 30 November 2009

RA KOSASIH: YANG MEMBESARKAN PARA KURAWA

Thursday, 18 January 2007

oleh Aulia A Muhammad

Dipublikasikan di harian Suara Merdeka, 2004

SIANG yang terik, kemarau 1968, di ruang praktek dr Surjani. Lelaki tua botak itu turun dari kasur pemeriksaan,
mengancingkan bajunya yang terbuka. Dadanya memang telah tampak mengisut, dan ia memeriksakan diri, karena
acap merasa sesak, juga tenggorokan yang selalu kering, terutama di tengah malam.
Di sampingnya, duduk sambil menuliskan resep, dr Surjani bertanya: "Kerjanya apa, Pak?"
"Hanya tukang gambar, Pak."
"Tukang gambar? Maksudnya?"
"Yah, begitulah.... Menggambar komik wayang."
Tangan dokter itu berhenti menulis, kepalanya menengadah. "Boleh tahu nama Bapak?"
"Kosasih."
Surjani melompat! "RA Kosasih yang bikin komik Mahabrata dan Ramayana itu?"
Lelaki tua itu mengangguk.
"Astaga! Kenapa tak bilang dari tadi. Saya dulu mengumpulkan semua komik Bapak. Dari SMP, saya sudah baca komik
Bapak. Aduh, tidak saya sangka..." Ia tersenyum, menyalami lelaki paro baya itu. Matanya masih terpesona.
Ya, untuk Anda yang lahir tahun 60 ke bawah, tak akan bisa melupakan nama RA Kosasih. Dialah pemasok utama
komik wayang, yang menjadi bacaan paling digemari pada masa keemasannya. Karyanya, Mahabrata, Ramayana,
Pandawa Seda, Bharatayudha, Raden Parikesit sampai Srikandi memenuhi ruang benak anak-anak sampai orang tua di
masa itu. Komik wayang di tangan Kosasih dulu, bahkan lebih digemari daripada Shinchan atau dora Emon di masa
sekarang. "Kepiawaian Kosasih meletakkan struktur cerita dengan idiom Jawa membuat wayang menjadi gampang
diterima keluarga, apalagi dengan idiom sehari-hari. Kuat, menyentuh dan memesona," puji Sardono W Kusuma,
pengagum Kosasih.
Kosasih sendiri mengakui itu. Ia memang banyak membumikan, banyak kompromi. "Keadaan di Indonesia membatasi
saya. Tak mungkin saya menggambarkan Drupadi bersuami lima orang," akunya kepada /Tempo/, 21 Desember 1991.
*Pencipta superhero wanita*
RA Kosasih lahir di desa Bondongan, Bogor, 85 tahun silam, sebagai bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya Raden
Wiradikusuma, seorang pedagang dari Purwakarta, sedang ibunya, Sumami, perempuan Bogor. Minat menggambar
Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands Scholl, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Nah, di
saat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap komik Tarzan dari potongan-potongan
koran bungkus belanjaan. Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan. Lulus dari
Inlands School 1932, ia melanjutkan ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan. "Di HIS inilah saya mulai tertarik
pada seni menggambar secara formal. Sebab, ilustrasi pada buku pelajaran Bahasa Belanda bagus-bagus. Buku
catatan saya banyak yang cepat habis karena saya gambari," kenangnya, tertawa.
Selepas HIS ia tak meneruskan sekolah, meski kesempatan menjadi pamong praja menunggunya. Masa menganggur
itu ia puaskan dengan menggambar dan menonton wayang golek. Ia selalu pulang pagi, terutama jika lakonnya Arjuna,
Bima, atau Gatotkaca. Karena kerapnya, ia sampai hapal semua cerita wayang, juga gaya para pedalang. "Jika pulang
nonton, kepala saya masih selalu dipenuhi gambaran ceritanya. Saya lalu dapat ide, jika cerita itu dipersingkat tapi tetap
berbobot, tentu disukai banyak orang." Tapi, ide itu hanya sebatas ide. 1939, ia melamar sebagai juru gambar di
Departemen Pertanian Bogor. Diterima, ia pun menjadi penggambar hewan dan tumbuhan. "Acap, serangga yang akan
saya gambar harus saya lihat dulu di bawah mikroskop." Gajinya cukup, meski tak mewah. Jepang masuk, kehidupan
Kosasih menderita. Kebahagiaanya cuma satu, ia mendapatkan komik /Flash Gordon/. Setelah merdeka, ia melihat
banyak peluang di koran-koran. 1953, ia melamar kerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung, diterima, ia
masuk malam, karena siang masih bekerja di Departemen pertaniahn.
"Serial pertama saya lahir, Sri Asih, superhero wanita. Boleh dibilang, saya pengagum wanita. Ide itu terinspirasi oleh
komik /Wonder Woman/," akunya. Sri Asih dicetak 3000 eksemplar, lansung tandas. Ia mendapat honor 4 ribu rupiah
sebulan. "Padahal, gaji saya sebagai pegawai 150 rupiah." Kesuksesan Sri Asih melecut semangatnya. Ia pun membuat
serial kedua, Siti Gahara. Yang pertama pendekar wanita berbusana wayang, yang kedua berbusana aladin. Juga laku
keras. Semangatnya kian membara. Imajinasinya tambah liar. Ia melahirkan kembali serial sejenis, Sri Dewi. Hebatnya,
ia bahkan melahirkan edisi Sri Dewi Kontra Dewi Sputnik. "Saya mau menunjukkan, tradisi lawan modern tidak selalu
dimenangkan yang modern. Sri Dewi harus tetap menang, ha-ha-ha..."
1955, ia keluar dari Departemen Pertanian karena kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Order menggambar terus
mengalir. Tapi, kenikmatan ijaminasi itu hanya berlangsung sepuluh tahun. Ketika Lekra berkuasa, komiknya dikecam
Komik Indonesia - All you need to know about Indonesian Comics
http://komikindonesia.com/ Powered by Joomla! Generated: 1 December, 2009, 09:02
karena mengandung unsur kebarat-baratan. Pihak Lekra malah membombardir pasar dengan komik keluaran RRC.
Tiras komik Kosasih turun drastis. Ia tapi tak menyerah. Merasa tertantang, Kosasih bergerak ke wayang. Komik
Mundinglaya Dikusuma dan Ganesha Bangun pun lahir. Namun, komik Burisrawa Gandrung dan Burisrawa Merindukan
Bulan yang laris. Pasar kembali ia kuasai. Ketika meminjam buku di Perpustakaan Bogor, matanya melahap /Bagawat
Gita/ terjemahan Balai Pustaka. Ide baru pun muncul.
Kepada penerbit Melodi, ia katakan ingin mengomikkan wayang dari versi asli. Segera Ramayana dan Mahabrata lahir.
Hasilnya, luar biasa, mungkin rekor yang belum terpecahkan sampai saat ini. Menurut hitungan Kosasih, dalam sebulan,
satu seri komiknya dapat terjual 30 ribu eksemplar. Gila! Tentu saja, kesuksesan ini mendatangkan iri. Komikus lain pun
terjun bebas mengikuti jejaknya. Tapi, "trade mark" Kosasih tak tertandingi. Untuk tetap pegang pasar, ia terus
berimprovisasi. Ia juga melahirkan superhero wanita lain, Cempaka, wanita berbaju loreng, kekar dan tinggi seksi. "Itu
terinspirasi komik Tarzan," akunya. Sayang, perubahan manajemen Melodi membuat komiknya tak lagi diperpanjang,
hanya mengandalkan cetak ulang. 1964, ia pindah ke Jakarta, bekerja untuk Lokajaya. Tapi, masa keemasan komik
mulai pudar. serial Kala Hitam dan Setan Cebol hanya laku 2000 eksemplar. 1968, kesehatan Kosasih memburuk, ia
pun istirahat setahun penuh, kembali ke Bogor. Tahun 70-an, penerbit Maranatha Bandung memintanya menulis ulang
Mahabrata. Tapi lucunya, karya ulang itu tak sama dengan yang pertama. Kosasih dinilai gagal.
"Memang, jika menggambar saya mengikutkan suasana hari. Jadi, jika kadang menjadi berbeda sama sekali," akunya.
Memasuki tahun 1980-an, komiknya hanya beredar terbatas. Komik asing yang masuk, juga maraknya era komik silat
Jan Mintaraga, Djair dan Ganes Th ikut memurukkannya. "saya selalu membaca karya mereka, juga yang dari luar.
Bagus-bagus sekali kok," pujinya jujur. Mulai 1985, Kosasih, pionir komikus wayang itu praktis dilupakan. Namanya
hanya hadir dalam seminar dan sejatah komik. Orang bahkan jarang tahu, dengan tubuh renta uzur 85 tahun, ia masih
acap duduk, sendiri, di meja gambarnya, berteman kalkir dan tinta cina, dan menggambar dengan jari yang gemetar. Ya,
Kosasih masih beraksi, sendiri, di paviliun mungil Jl Pahlawan Bogor, seakan diminta menjadi saksi, zaman yang
mengogahi seni tradisi.
Komik Indonesia - All you need to know about Indonesian Comics
Dari : http://komikindonesia.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=34

Tidak ada komentar:

Posting Komentar