Senin, 30 November 2009

SAMBUTAN TIM KURATOR KOSASIH AWARD 2007

Dipublikasikan di buku katalog Kosasih Award 2007
Dibacakan saat pembukaan Kosasih Award 2007, 16 Agustus 2007, Bentara Budaya Jakarta


Festival Komik Indonesia Satu Dekade 1997-2007 (KONDE) merupakan parade perjalanan komik Indonesia selama kurun waktu tersebut. Tidak hanya karya-karya komik monumental yang lahir pada satu dekade terakhir ini. Namun juga mencakup peristiwa-peristiwa penting seputar dunia komik nasional. Semuanya semata demi mewartakan kepada masyarakat bahwa komik Indonesia masih aktif dan senantiasa berprestasi. KONDE merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap budaya seni pop ini, yang sering dicaci, dilecehkan, bahkan dianaktirikan masyarakat sejak puluhan tahun lalu.

Berbagai usaha dilakukan dalam satu dekade terakhir untuk mengangkat ’harkat dan martabat’ seni komik. Mulai dari pameran, liputan media, forum diskusi, kemasan yang artistik, tulisan kritik, dan masih banyak lagi. Salah satu yang kini dirintis adalah penghargaan terhadap karya seni komik. Mengapa tidak? Dunia seni lain, contohnya sinema dan musik, memiliki ajang penghargaan. Semuanya bertujuan positif, yaitu memberikan apresiasi tertinggi serta memberi dukungan agar terus melahirkan karya-karya masterpiece. Di dunia internasional, penghargaan terhadap seni komik tidaklah asing. Beberapa negara sudah melakukannya sejak tahunan lampau. Sebagian para pemenang mendapatkan perhatian tinggi dari pemerhati seni lainnya, dan perlahan pengakuan terhadap seni komik pun mengalir.

Mengapa diberi nama Kosasih Award? Mengapa bukan tokoh komikus lainnya? Walaupun belum ada pengakuan resmi dari Pemerintah atau lembaga hukum manapun, komikus legendaris R.A. Kosasih dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia. Catatan historis menunjukan bahwa beliau bukanlah orang Indonesia pertama yang membuat komik di era modern. Namun R.A. Kosasih-lah yang paling berjasa kepada semua komikus dan pembaca komik tanah air melalui karya-karyanya. Beliau yang pertama kali melahirkan komik dalam format buku di tahun 1953 dengan tokoh Sri Asih, seorang wanita dengan kekuatan super berpakaian selayaknya tokoh wayang. Kelak Sri Asih menginspirasi banyak komikus untuk terus melahirkan karakter-karakter pahlawan super.

Ketika masyarakat menuding seni komik sebagai karya seni murahan dan merusak moral pembacanya (yang mayoritas anak-anak), R.A. Kosasih mengadaptasi kisah-kisah wayang ke dalam media komik. Dimulai dari Burisrawa Merindukan Bulan (1953), beliau meneruskannya hingga terbit karyanya yang paling fenomenal, Mahabharata dan Ramayana ditahun 1954. Langkah ini merupakan strategi paling jitu ketika berhadapan dengan masyarakat yang sudah terlanjur akrab dengan filosofi kisah pewayangan selama ratusan tahun. R.A. Kosasih pun mampu menghibur, sekaligus menyampaikan pesan moral yang sama dalam format komik. Selain itu, ini yang paling penting, R.A. Kosasih mampu menyampaikannya dengan bahasa Indonesia yang sangat sederhana. Faktor terakhir inilah yang paling sulit, mengingat ia menyadur kitab Mahabharata dan Ramayana (yang aslinya berbahasa India) dan semurni mungkin dengan menghindarkan pengaruh budaya Jawa (wayang purwa). Beliau pun memvisualisasikan berbagai karakter wayang dengan interpretasi yang mengagumkan. Sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan, mengingat masyarakat mengenal visualisasi karakter wayang sebatas bentuk-bentuk tradisional seperti wayang beber, wayang kulit, wayang golek dan wayang orang. Hasilnya sudah dapat ditebak dan masyarakat pun mulai dapat menerima komik (setidaknya komik wayang) sebagai bacaan yang baik.

Ketekunan, dedikasi, inovasi dan kesuksesan R.A. Kosasih membuka pintu karir dan menjadi teladan bagi ribuan komikus hingga hari ini. Sudah waktunya beliau, yang kini masih segar dan sehat di usia yang sangat lanjut, mendapatkan penghargaan yang lebih dari sekedar pantas. Penamaan penghargaan dengan mengabadikan namanya merupakan salah satu bentuk ucapan cinta dan terima kasih seluruh insan pecinta komik Indonesia kepadanya.

Penyelenggaraan Kosasih Award 2007 memberikan 10 kategori penghargaan yaitu: komik terbaik, cerita terbaik, gambar terbaik, sampul terbaik, karakter terbaik, komik indie terbaik, komik terapi terbaik, komik maya terbaik, tulisan kritik terbaik, dan majalah komik terbaik. Seluruh nominator dipilih dari ribuan karya yang terbit selama 1997-2007, baik terbit secara mainstream maupun secara independen. Menentukan 10 kategori diatas bukanlah pekerjaan mudah. Terutama saat merumuskan definisi setiap kategori. Berbagai pertimbangan dilakukan, termasuk melihat apa yang penting bagi perkembangan komik nasional.

Memilih karya terbaik untuk setiap kategori juga bukanlah pekerjaan yang ringan. Selain banyaknya karya yang harus diseleksi selama 10 tahun terakhir, tim kurator menemukan banyak sekali karya yang kualitasnya bagus. Debat argumen, yang terkadang juga dengan debat ilmiah, pada akhirnya berakhir dengan kesepakatan. Tentu saja hasilnya dapat dipertanyakan dikemudian hari, namun pemilihan yang telah melampaui proses ketat dipercaya dapat dipertanggungjawabkan dan diterima publik.

Apakah pemberian penghargaan Kosasih Award berikutnya harus menunggu 10 tahun lagi? Semoga saja tidak. Semoga apa yang sudah dirintis ini dapat berlanjut menjadi ajang prestasi setiap, katakanlah, dua tahun sekali. Diharapkan semua pihak terus berbenah diri untuk menyempurnakannya. Tidak hanya dari pihak penyelenggara, namun juga proses seleksi dan peningkatan mutu komik-komik yang lahir di masa yang akan datang, serta profesionalitas para pelaku industri komik nasional. Terbuka kemungkinan pada penyelenggaraan berikutnya jumlah, jenis dan definisi kategori berubah seiring perkembangan zaman. Namun semuanya itu tetap memiliki satu tujuan: meningkatkan kualitas karya dan mengapresiasi komik nasional.

Hidup komik Indonesia!

Dari : http://surjorimba.blog.friendster.com/2007/08/sambutan-tim-kurator-kosasih-award-2007/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar