Senin, 30 November 2009

Kisah Para Empu Komik

Bagian dari kejayaan

Para komikus tersebut menjadi bagian dari sejarah kejayaan komik nasional sebagai tuan rumah. Djair dikenal dengan karyanya, seperti Jaka Sembung, dan membuat komik mulai pertengahan tahun 1960-an.

Begitu pula dengan MAN dan Gerdi WK.
Gerdi WK mengatakan, komik Indonesia sempat menjadi tuan rumah. Namun, pertengahan tahun 1974 mulai menurun sampai matinya tahun 1990-an. Gerdi sendiri membuat komik untuk penerbitan di koran sejak tahun 1965. "Sekarang boleh dibilang nganggur, menggambar cuma untuk melatih tangan. Dulu sih bisa hidup dari komik. Sekarang tidak bisa," ujarnya.

Gerdi memberi gambaran, di masa silam satu jilid sebanyak 64 halaman dia mendapatkan Rp 100.000. Saat itu harga emas satu gram Rp 250 perak, jadi satu jilid bisa untuk membeli 400 gram atau sekitar setengah kilogram emas. Gerdi malah sempat mendapatkan honor tetap.

Raden Ahmad Kosasih, komikus gaek yang terkenal lewat komik perwayangan, sempat bercerita tentang zaman kejayaan itu ketika ditemui di kediamannya di kawasan Rempoa.
RA Kosasih pertama kali dikenal lewat karyanya, Sri Asih, yang diterbitkan oleh Penerbit Melodie di Bandung tahun 1954. Setelah itu, RA Kosasih populer dengan karya seperti Mahabharata, Ramayana, dan Siti Gahara.

Penghargaan terhadap komik terbilang lumayan, kata Kosasih. "Imbalan komik itu sampai lima kali lipat gaji saya di pertanian (sekarang Lembaga Penelitian Hama Tanaman). Waktu itu gaji saya Rp 350 tahun 1950-an. Beras masih seperak setengah seliter. Kalau tidak salah, dari membuat komik, saya dapat sekitar lima kali lipatnya.

Itu mula-mula, setelah itu dinaikkan sampai dapat Rp 4.000 satu bulan. Sama dengan gaji menteri. Apalagi saya sebetulnya membuat komik karena senang bukan sekadar uangnya," ujar RA Kosasih yang kemudian memilih berhenti dari pekerjaan tetapnya dan hidup dari komik.

Saat ini Gerdi, RA Kosasih, Djair, dan Mansyur Daman tidak lagi menyimpan satu pun naskah asli karya atau mengoleksi karya pribadi. Alasannya beragam dan kadang menggelitik.

Djair mengatakan, sebagian besar naskahnya sudah menjadi milik penerbit lantaran dibeli putus. Waktu itu mesin fotokopi juga masih langka. Sebagian habis dimakan rayap, dipinjam produser di film. "Ada yang dipinjam pacarnya anak saya, terus enggak balik. Saya juga tidak menyimpan komik sendiri. Biar yang baca orang lain saja," ujarnya sambil tersenyum.

Begitu juga Gerdi WK. Dahulu, pembuatan komik biasanya dengan memotret karya asli kemudian dicetak. "Setelah dipotret biasanya dibuang dan dipungutin sama anak-anak yang sedang belajar menggambar," ujarnya.

Barangkali itu sekaligus sebagai pertanda bahwa masa lalu tinggal menjadi sejarah yang dihargai dan dijadikan pelajaran, tetapi saatnya mengisi dengan karya baru. Seperti semangat para empu komik itu.

Dari : http://images.sudarjanto.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/R16@egoKCDMAADZSZP01/Kisah%20Para%20Empu%20Komik.pdf?nmid=68836833

SAMBUTAN TIM KURATOR KOSASIH AWARD 2007

Dipublikasikan di buku katalog Kosasih Award 2007
Dibacakan saat pembukaan Kosasih Award 2007, 16 Agustus 2007, Bentara Budaya Jakarta


Festival Komik Indonesia Satu Dekade 1997-2007 (KONDE) merupakan parade perjalanan komik Indonesia selama kurun waktu tersebut. Tidak hanya karya-karya komik monumental yang lahir pada satu dekade terakhir ini. Namun juga mencakup peristiwa-peristiwa penting seputar dunia komik nasional. Semuanya semata demi mewartakan kepada masyarakat bahwa komik Indonesia masih aktif dan senantiasa berprestasi. KONDE merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap budaya seni pop ini, yang sering dicaci, dilecehkan, bahkan dianaktirikan masyarakat sejak puluhan tahun lalu.

Berbagai usaha dilakukan dalam satu dekade terakhir untuk mengangkat ’harkat dan martabat’ seni komik. Mulai dari pameran, liputan media, forum diskusi, kemasan yang artistik, tulisan kritik, dan masih banyak lagi. Salah satu yang kini dirintis adalah penghargaan terhadap karya seni komik. Mengapa tidak? Dunia seni lain, contohnya sinema dan musik, memiliki ajang penghargaan. Semuanya bertujuan positif, yaitu memberikan apresiasi tertinggi serta memberi dukungan agar terus melahirkan karya-karya masterpiece. Di dunia internasional, penghargaan terhadap seni komik tidaklah asing. Beberapa negara sudah melakukannya sejak tahunan lampau. Sebagian para pemenang mendapatkan perhatian tinggi dari pemerhati seni lainnya, dan perlahan pengakuan terhadap seni komik pun mengalir.

Mengapa diberi nama Kosasih Award? Mengapa bukan tokoh komikus lainnya? Walaupun belum ada pengakuan resmi dari Pemerintah atau lembaga hukum manapun, komikus legendaris R.A. Kosasih dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia. Catatan historis menunjukan bahwa beliau bukanlah orang Indonesia pertama yang membuat komik di era modern. Namun R.A. Kosasih-lah yang paling berjasa kepada semua komikus dan pembaca komik tanah air melalui karya-karyanya. Beliau yang pertama kali melahirkan komik dalam format buku di tahun 1953 dengan tokoh Sri Asih, seorang wanita dengan kekuatan super berpakaian selayaknya tokoh wayang. Kelak Sri Asih menginspirasi banyak komikus untuk terus melahirkan karakter-karakter pahlawan super.

Ketika masyarakat menuding seni komik sebagai karya seni murahan dan merusak moral pembacanya (yang mayoritas anak-anak), R.A. Kosasih mengadaptasi kisah-kisah wayang ke dalam media komik. Dimulai dari Burisrawa Merindukan Bulan (1953), beliau meneruskannya hingga terbit karyanya yang paling fenomenal, Mahabharata dan Ramayana ditahun 1954. Langkah ini merupakan strategi paling jitu ketika berhadapan dengan masyarakat yang sudah terlanjur akrab dengan filosofi kisah pewayangan selama ratusan tahun. R.A. Kosasih pun mampu menghibur, sekaligus menyampaikan pesan moral yang sama dalam format komik. Selain itu, ini yang paling penting, R.A. Kosasih mampu menyampaikannya dengan bahasa Indonesia yang sangat sederhana. Faktor terakhir inilah yang paling sulit, mengingat ia menyadur kitab Mahabharata dan Ramayana (yang aslinya berbahasa India) dan semurni mungkin dengan menghindarkan pengaruh budaya Jawa (wayang purwa). Beliau pun memvisualisasikan berbagai karakter wayang dengan interpretasi yang mengagumkan. Sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan, mengingat masyarakat mengenal visualisasi karakter wayang sebatas bentuk-bentuk tradisional seperti wayang beber, wayang kulit, wayang golek dan wayang orang. Hasilnya sudah dapat ditebak dan masyarakat pun mulai dapat menerima komik (setidaknya komik wayang) sebagai bacaan yang baik.

Ketekunan, dedikasi, inovasi dan kesuksesan R.A. Kosasih membuka pintu karir dan menjadi teladan bagi ribuan komikus hingga hari ini. Sudah waktunya beliau, yang kini masih segar dan sehat di usia yang sangat lanjut, mendapatkan penghargaan yang lebih dari sekedar pantas. Penamaan penghargaan dengan mengabadikan namanya merupakan salah satu bentuk ucapan cinta dan terima kasih seluruh insan pecinta komik Indonesia kepadanya.

Penyelenggaraan Kosasih Award 2007 memberikan 10 kategori penghargaan yaitu: komik terbaik, cerita terbaik, gambar terbaik, sampul terbaik, karakter terbaik, komik indie terbaik, komik terapi terbaik, komik maya terbaik, tulisan kritik terbaik, dan majalah komik terbaik. Seluruh nominator dipilih dari ribuan karya yang terbit selama 1997-2007, baik terbit secara mainstream maupun secara independen. Menentukan 10 kategori diatas bukanlah pekerjaan mudah. Terutama saat merumuskan definisi setiap kategori. Berbagai pertimbangan dilakukan, termasuk melihat apa yang penting bagi perkembangan komik nasional.

Memilih karya terbaik untuk setiap kategori juga bukanlah pekerjaan yang ringan. Selain banyaknya karya yang harus diseleksi selama 10 tahun terakhir, tim kurator menemukan banyak sekali karya yang kualitasnya bagus. Debat argumen, yang terkadang juga dengan debat ilmiah, pada akhirnya berakhir dengan kesepakatan. Tentu saja hasilnya dapat dipertanyakan dikemudian hari, namun pemilihan yang telah melampaui proses ketat dipercaya dapat dipertanggungjawabkan dan diterima publik.

Apakah pemberian penghargaan Kosasih Award berikutnya harus menunggu 10 tahun lagi? Semoga saja tidak. Semoga apa yang sudah dirintis ini dapat berlanjut menjadi ajang prestasi setiap, katakanlah, dua tahun sekali. Diharapkan semua pihak terus berbenah diri untuk menyempurnakannya. Tidak hanya dari pihak penyelenggara, namun juga proses seleksi dan peningkatan mutu komik-komik yang lahir di masa yang akan datang, serta profesionalitas para pelaku industri komik nasional. Terbuka kemungkinan pada penyelenggaraan berikutnya jumlah, jenis dan definisi kategori berubah seiring perkembangan zaman. Namun semuanya itu tetap memiliki satu tujuan: meningkatkan kualitas karya dan mengapresiasi komik nasional.

Hidup komik Indonesia!

Dari : http://surjorimba.blog.friendster.com/2007/08/sambutan-tim-kurator-kosasih-award-2007/

Tribute untuk Legenda-Legenda yang Terlupakan -- Nh. Dini & RA Kosasih --GRATIS!!!

Start: Feb 21, '09 10:00a
End: Feb 21, '09 12:00p
Berapa banyak dari kita yang tahu Nh. Dini, RA Kosasih, dan sederet nama lainnya yang bisa jadi terasa asing di telinga seperti Darmanto Jatman, Amir Pasaribu, Ashadi Siregar?

Padahal tanpa kehadiran Nh. Dini misalnya, dengan keberaniannya mengangkat tema-tema perempuannya di periodisasi 1950-1960-an mungkin pembaca di zaman Reformasi ini tidak akan mengenal Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Helvy Tiana Rosa dan sederet penulis perempuan lain saat ini yang sarat mengangkat tema-tema partisipasi perempuan. Begitupun tanpa kehadiran RA Kosasih yang didaulat menjadi Bapak Komik Indonesia, mungkin pembaca di zaman Reformasi ini tidak akan mengenal Ahmad Toriq komikus Caroq, Pidi Baiq komikus Drunken Molen, Beni & Mirsyad komikus Benny & Mice, dan sederet komikus lain yang sekarang ini mendominasi ruang-ruang baca di sekitar pembaca. Sebagai garda depan penulisan pada zamannya, nama keduanya seolah berhenti sebagai legenda saja.

Maka digerakkan oleh semangat "mengingat kembali", marilah kita datang ke acara bertajuk 'Tribut untuk Legenda-Legenda yang Terlupakan' yang akan diadakan pada:

Hari, Tanggal: Sabtu, 21 Februari 2009
Jam 10.00-12.00 WIB
Tempat: Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki

GRATIS-GRATIS-GRATIS-GRATIS-GRATIS-GRATIS-GRATIS

Gambaran acara:
* Pameran karya lukis dekoratif Cina Nh. Dini
* Pameran komik-komik RA Kosasih
* Temu Penulis Nh. Dini
* Book signing
* Makan siang bersama dan ramah-tamah

Datang ya... kan Gratis!

Diselenggarakan berkat kerjasama: Goodreads Indonesia, Jakarta's Bookworms, Komik Indonesia, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Gagas Media, VHR Media, ProResensi RRI Pro 2

Dari : http://lianamaku.multiply.com/calendar/item/10015/Tribute_untuk_Legenda-Legenda_yang_Terlupakan_--_Nh._Dini_RA_Kosasih_--GRATIS

RUAS JALAN R.A. KOSASIH AKAN DIREKAYASA MENJADI TIGA JALUR

Senin, 13 April 2009
RUAS JALAN R.A. KOSASIH AKAN DIREKAYASA MENJADI TIGA JALUR
Reporter : ENDANG SUMARDI


Ruas jalan R.A. Kosasih khususnya di depan SMA Negeri 3 Kota Sukabumi, akan direkayasa menjadi tiga jalur, dengan memasang rambu pembatas jalan. Maksud dan tujuannya, untuk meningkatkan kelancaran arus lalu lintas, khususnya di depan SMA tersebut, ter-utama pada saat jam masuk dan keluar sekolah.

Seperti dikatakan Kepala Dinas Perhubungan Kota Sukabumi, Drs. H. Andri Setiawan, M.M., dengan dijadikannya tiga jalur yang dibatasi rambu pembatas tersebut, ada jalur khusus untuk angkot. Dengan demikian, arus lalu lintas pada ruas jalan tersebut akan berjalan lancar, karena angkot yang berhenti di ruas jalan tersebut khususnya di depan SMA Negeri 3 Kota Sukabumi, tidak akan mengganggu terhadap pengguna jalan lainnya.

Selain itu, pihak Dinas Perhubungan Kota Sukabumi, juga akan memberlakukan satu jalur pada ruas jalan Ahmad Yani, sampai dengan pertigaan jalan R.A. Kosasih dan jalan Siliwangi. Guna mewujudkan rencana tersebut, pihak Dinas Perhubungan Kota Sukabumi telah melakukan koordinasi dengan pihak Polres Kota Sukabumi.

Ditandaskannya, rencana pemberlakuan satu jalur pada jalan Ahmad Yani tersebut, selain untuk menunjang kelancaran arus lalu lintas, juga untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang berbelanja. Sebab di tepi kiri dan kanan ruas jalan tersebut, merupakan sentra perdagangan, baik mayofield maupun toko.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Sukabumi juga menjelaskan, pihaknya telah melakukan pembenahan dan penataan Halte tempat pemberhentian angkot di Kota Sukabumi, sekaligus memasang rambu peringatan, spanduk dan stiker, yang isinya melarang segenap lapisan masyarakat mencorat-coret bangunan Halte. Hasilnya cukup memuaskan dan membanggakan semua pihak. Buktinya Halte-halte di Kota Sukabumi tampak lebih bersih dan nyaman.

Dari : http://www.sukabumikota.go.id/detailberita.asp?id=RUAS%20JALAN%20R.A.%20KOSASIH%20AKAN%20DIREKAYASA%20MENJADI%20TIGA%20JALUR

Raden Ahmad Kosasih Jadi Nama Jalan di Sukabumi


Raden Ahmad Kosasih


adalah seorang penulis dan penggambar komik termasyhur dari Indonesia. Generasi komik masa kini menganggapnya sebagai Bapak Komik Indonesia.


Karya-karyanya terutama berhubungan dengan kesusastraan Hindu (Ramayana dan Mahabharata) dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari sastra Jawa dan Sunda. Selain itu beliau juga menggambar beberapa komik silat yang memiliki pengaruh Tionghoa, namun tidak terlalu banyak.


Kosasih mulai menggambar pada tahun 1953 lalu ia mulai berhenti dan pensiun pada tahun 1993. Kosasih terutama menggambar sketsa-sketsa hitam-putih tanpa memakai warna.


Kosasih memulai kariernya pada penerbit Melodi di Bandung. Namun karya-karyanya yang terkenal diterbitkan oleh Maranatha. Akhir-akhir ini pada dasawarsa tahun 1990-an karya-karyanya diterbitkan ulang oleh Elex Media Komputindo dan penerbit Paramita di Surabaya.

Karya:Sri Asih,Siti Gahara,Ramayana,Mahabharata


karena jasa-jasa beliau maka banyak jalan di Jawa barat yang dimambil dari nama beliau termasuk jalan RA Kosasih Sukabumi tempat saya tinggal saat ini

Dari : http://www.ikhsan.web.id/2009/01/ra-kosasih.html

RA KOSASIH: YANG MEMBESARKAN PARA KURAWA

Thursday, 18 January 2007

oleh Aulia A Muhammad

Dipublikasikan di harian Suara Merdeka, 2004

SIANG yang terik, kemarau 1968, di ruang praktek dr Surjani. Lelaki tua botak itu turun dari kasur pemeriksaan,
mengancingkan bajunya yang terbuka. Dadanya memang telah tampak mengisut, dan ia memeriksakan diri, karena
acap merasa sesak, juga tenggorokan yang selalu kering, terutama di tengah malam.
Di sampingnya, duduk sambil menuliskan resep, dr Surjani bertanya: "Kerjanya apa, Pak?"
"Hanya tukang gambar, Pak."
"Tukang gambar? Maksudnya?"
"Yah, begitulah.... Menggambar komik wayang."
Tangan dokter itu berhenti menulis, kepalanya menengadah. "Boleh tahu nama Bapak?"
"Kosasih."
Surjani melompat! "RA Kosasih yang bikin komik Mahabrata dan Ramayana itu?"
Lelaki tua itu mengangguk.
"Astaga! Kenapa tak bilang dari tadi. Saya dulu mengumpulkan semua komik Bapak. Dari SMP, saya sudah baca komik
Bapak. Aduh, tidak saya sangka..." Ia tersenyum, menyalami lelaki paro baya itu. Matanya masih terpesona.
Ya, untuk Anda yang lahir tahun 60 ke bawah, tak akan bisa melupakan nama RA Kosasih. Dialah pemasok utama
komik wayang, yang menjadi bacaan paling digemari pada masa keemasannya. Karyanya, Mahabrata, Ramayana,
Pandawa Seda, Bharatayudha, Raden Parikesit sampai Srikandi memenuhi ruang benak anak-anak sampai orang tua di
masa itu. Komik wayang di tangan Kosasih dulu, bahkan lebih digemari daripada Shinchan atau dora Emon di masa
sekarang. "Kepiawaian Kosasih meletakkan struktur cerita dengan idiom Jawa membuat wayang menjadi gampang
diterima keluarga, apalagi dengan idiom sehari-hari. Kuat, menyentuh dan memesona," puji Sardono W Kusuma,
pengagum Kosasih.
Kosasih sendiri mengakui itu. Ia memang banyak membumikan, banyak kompromi. "Keadaan di Indonesia membatasi
saya. Tak mungkin saya menggambarkan Drupadi bersuami lima orang," akunya kepada /Tempo/, 21 Desember 1991.
*Pencipta superhero wanita*
RA Kosasih lahir di desa Bondongan, Bogor, 85 tahun silam, sebagai bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya Raden
Wiradikusuma, seorang pedagang dari Purwakarta, sedang ibunya, Sumami, perempuan Bogor. Minat menggambar
Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands Scholl, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Nah, di
saat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap komik Tarzan dari potongan-potongan
koran bungkus belanjaan. Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan. Lulus dari
Inlands School 1932, ia melanjutkan ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan. "Di HIS inilah saya mulai tertarik
pada seni menggambar secara formal. Sebab, ilustrasi pada buku pelajaran Bahasa Belanda bagus-bagus. Buku
catatan saya banyak yang cepat habis karena saya gambari," kenangnya, tertawa.
Selepas HIS ia tak meneruskan sekolah, meski kesempatan menjadi pamong praja menunggunya. Masa menganggur
itu ia puaskan dengan menggambar dan menonton wayang golek. Ia selalu pulang pagi, terutama jika lakonnya Arjuna,
Bima, atau Gatotkaca. Karena kerapnya, ia sampai hapal semua cerita wayang, juga gaya para pedalang. "Jika pulang
nonton, kepala saya masih selalu dipenuhi gambaran ceritanya. Saya lalu dapat ide, jika cerita itu dipersingkat tapi tetap
berbobot, tentu disukai banyak orang." Tapi, ide itu hanya sebatas ide. 1939, ia melamar sebagai juru gambar di
Departemen Pertanian Bogor. Diterima, ia pun menjadi penggambar hewan dan tumbuhan. "Acap, serangga yang akan
saya gambar harus saya lihat dulu di bawah mikroskop." Gajinya cukup, meski tak mewah. Jepang masuk, kehidupan
Kosasih menderita. Kebahagiaanya cuma satu, ia mendapatkan komik /Flash Gordon/. Setelah merdeka, ia melihat
banyak peluang di koran-koran. 1953, ia melamar kerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung, diterima, ia
masuk malam, karena siang masih bekerja di Departemen pertaniahn.
"Serial pertama saya lahir, Sri Asih, superhero wanita. Boleh dibilang, saya pengagum wanita. Ide itu terinspirasi oleh
komik /Wonder Woman/," akunya. Sri Asih dicetak 3000 eksemplar, lansung tandas. Ia mendapat honor 4 ribu rupiah
sebulan. "Padahal, gaji saya sebagai pegawai 150 rupiah." Kesuksesan Sri Asih melecut semangatnya. Ia pun membuat
serial kedua, Siti Gahara. Yang pertama pendekar wanita berbusana wayang, yang kedua berbusana aladin. Juga laku
keras. Semangatnya kian membara. Imajinasinya tambah liar. Ia melahirkan kembali serial sejenis, Sri Dewi. Hebatnya,
ia bahkan melahirkan edisi Sri Dewi Kontra Dewi Sputnik. "Saya mau menunjukkan, tradisi lawan modern tidak selalu
dimenangkan yang modern. Sri Dewi harus tetap menang, ha-ha-ha..."
1955, ia keluar dari Departemen Pertanian karena kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Order menggambar terus
mengalir. Tapi, kenikmatan ijaminasi itu hanya berlangsung sepuluh tahun. Ketika Lekra berkuasa, komiknya dikecam
Komik Indonesia - All you need to know about Indonesian Comics
http://komikindonesia.com/ Powered by Joomla! Generated: 1 December, 2009, 09:02
karena mengandung unsur kebarat-baratan. Pihak Lekra malah membombardir pasar dengan komik keluaran RRC.
Tiras komik Kosasih turun drastis. Ia tapi tak menyerah. Merasa tertantang, Kosasih bergerak ke wayang. Komik
Mundinglaya Dikusuma dan Ganesha Bangun pun lahir. Namun, komik Burisrawa Gandrung dan Burisrawa Merindukan
Bulan yang laris. Pasar kembali ia kuasai. Ketika meminjam buku di Perpustakaan Bogor, matanya melahap /Bagawat
Gita/ terjemahan Balai Pustaka. Ide baru pun muncul.
Kepada penerbit Melodi, ia katakan ingin mengomikkan wayang dari versi asli. Segera Ramayana dan Mahabrata lahir.
Hasilnya, luar biasa, mungkin rekor yang belum terpecahkan sampai saat ini. Menurut hitungan Kosasih, dalam sebulan,
satu seri komiknya dapat terjual 30 ribu eksemplar. Gila! Tentu saja, kesuksesan ini mendatangkan iri. Komikus lain pun
terjun bebas mengikuti jejaknya. Tapi, "trade mark" Kosasih tak tertandingi. Untuk tetap pegang pasar, ia terus
berimprovisasi. Ia juga melahirkan superhero wanita lain, Cempaka, wanita berbaju loreng, kekar dan tinggi seksi. "Itu
terinspirasi komik Tarzan," akunya. Sayang, perubahan manajemen Melodi membuat komiknya tak lagi diperpanjang,
hanya mengandalkan cetak ulang. 1964, ia pindah ke Jakarta, bekerja untuk Lokajaya. Tapi, masa keemasan komik
mulai pudar. serial Kala Hitam dan Setan Cebol hanya laku 2000 eksemplar. 1968, kesehatan Kosasih memburuk, ia
pun istirahat setahun penuh, kembali ke Bogor. Tahun 70-an, penerbit Maranatha Bandung memintanya menulis ulang
Mahabrata. Tapi lucunya, karya ulang itu tak sama dengan yang pertama. Kosasih dinilai gagal.
"Memang, jika menggambar saya mengikutkan suasana hari. Jadi, jika kadang menjadi berbeda sama sekali," akunya.
Memasuki tahun 1980-an, komiknya hanya beredar terbatas. Komik asing yang masuk, juga maraknya era komik silat
Jan Mintaraga, Djair dan Ganes Th ikut memurukkannya. "saya selalu membaca karya mereka, juga yang dari luar.
Bagus-bagus sekali kok," pujinya jujur. Mulai 1985, Kosasih, pionir komikus wayang itu praktis dilupakan. Namanya
hanya hadir dalam seminar dan sejatah komik. Orang bahkan jarang tahu, dengan tubuh renta uzur 85 tahun, ia masih
acap duduk, sendiri, di meja gambarnya, berteman kalkir dan tinta cina, dan menggambar dengan jari yang gemetar. Ya,
Kosasih masih beraksi, sendiri, di paviliun mungil Jl Pahlawan Bogor, seakan diminta menjadi saksi, zaman yang
mengogahi seni tradisi.
Komik Indonesia - All you need to know about Indonesian Comics
Dari : http://komikindonesia.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=34

PLUZ+ Terbitkan Ramayana Super Deluxe untuk Bantu RA Kosasih

Diposting: Jumat, 20 Nopember 2009 / 03:56:27 | Oleh: annida

Annida-Online--Komikus sepuh RA Kosasih (91) sakit lagi. Kemarin, seniman komik wayang ini mesti menjalani perawatan lagi di RS Bintaro, Tangerang karena sakit jantung. Untuk membantu biaya pengobatan pengarang Sri Asih ini, PLUZ+ -- Pustaka Langka Untuk Semua, sebuah penerbit khusus komik -- menggalang dana. Caranya, dengan menerbitkan komik "Ramayana" karya Kosasih di tahun 1956 itu dalam kemasan super deluxe.

Gienardy Santosa, salah seorang pendiri PLUZ+ mengatakan, komik spesial ini akan dicetak terbatas. "Hanya 30 eksemplar. Biaya penerbitannya dari PLUZ+, dan nanti dana yang terkumpul dari pemesan Ramayana super deluxe ini 100 persen diserahkan untuk membantu pengobatan Pak Kosasih," ujar Gienardy.

Ia menyebutkan, setiap orang yang berkenan menyumbangkan dana minimal Rp 500 ribu (dalam satu nama) akan mendapatkan 1 eksemplar buku setebal kurang lebih 418 halaman itu. Bentuknya hard cover dengan balutan kain beludru, plus emblem dari plat di tengah-tengahnya. Nantinya, nama pemesan akan dicantumkan di halaman depan atau belakang buku, sebagai ucapan terimakasih.

Saat ini, Ramayana edisi khusus itu sedang disiapkan dan ditargetkan akan cetak akhir bulan ini serta bisa diserahkan kepada pemesan pertengahan Desember mendatang. Spesialnya lagi, buku itu dicetak berdasar karya asli RA Kosasih, yang didapat pengelola PLUZ+ dari arsip Penerbit Melodie yang pertama kali menerbitkan. Penerbit Melodie di Bandung merupakan cikal bakal komik wayang selanjutnya. Gienardy menambahkan, di penerbit Melodie itu, RA Kosasih menggarap beberapa judul yang terkenal selain Ramayana, ada juga Mahabharata sampai Pandawa Seda, Parikesit sampai Udrayana.

"Setelah tidak dengan penerbit Melodie itu, lalu Pak Kosasih bergabung dengan penerbit Maranatha, Bandung. Beliau menggambar ulang lagi beberapa judul yang tenar, seperti Ramayana, Mahabharata," tutur Gienardy yang juga putra seorang komikus Indonesia, Ganes TH.

Sementara, Penerbit PLUZ+ sejak Juni lalu telah meluncurkan komik antara lain kisah Mahabharata karya Teguh Santosa (pernah dimuat di majalah Ananda sekitar tahun 80-an secara bersambung sebagai sisipan). Lalu awal Nopember kemarin telah merampungkan cetak komik Quadrology karya Ganes TH, yg berjudul "Krakatau".

"Rencananya, pada Desember ini kami siap menerbitkan komik wayang kembali yang berjudul "Wayang Purwa" karya almarhum S. Ardisoma," ujar Gienardy, yang mendirikan PLUZ+ bareng Andy Wijaya, Arzin Irwan dan Erwin Prima Arya pada Januari 2009.

Pendirian PLUZ+ diawali oleh Andy Wijaya dengan menyewa kios di Mal Plaza Semanggi lantai 2 Blok B No. 126 Jakarta bulan Oktober 2008, dan hingga kini tetap eksis menjadi toko buku komik. Tercetus ide dalam benak Andy untuk membuat PLUZ+ agar komik-komik Indonesia bermutu dapat cepat diterbitkan dan distribusikan. Ide ini pernah diutarakan Andy saat meeting dengan teman-temannya di KomikIndonesia.com pertengahan tahun 2008, meski jalan di tempat lantaran kesibukan masing-masing. Akhirnya Andy menggandeng Arzin teman SMP-nya, dan Andy mengusulkan kepada Arzin agar mengajak Gienardy dan Erwin Prima Arya. Sebab, untuk membangun penerbitan butuh banyak hal yakni ide, pemikiran, modal juga kerja keras beberapa orang yang total. Mulailah mereka berempat membuka toko buku di Plaza Semanggi dan menerbitkan Mahabharata karya Teguh Santosa yang sudah dikerjakan sebagian oleh Anjaya Books. Dengan bantuan Gerdi WK, PLUZ+ akhirnya dipercaya oleh ahli waris penerbit Melodie dan RA Kosasih untuk mencetak ulang semua komik Melodie. [Esthi/foto: dok. Andy/PLUZ+]

Dari : http://www.annida-online.com/berita-penerbit/pluz-terbitkan-ramayana-super-deluxe-untuk-bantu-ra-kosasih.html

90 TAHUN RA KOSASIH: BAPAK KOMIK INDONESIA

Thursday, 28 May 2009
Dalam waktu dekat akan diterbitkan Mahabharata, komik wayang karya (alm) Teguh Santosa yang pernah terbit sebagai
bonus Majalah Ananda sekitar tahun 1980-an. Berbicara tentang komik wayang tak bisa dilepaskan dari RA Kosasih,
legenda komikus yang populer dengan deretan komik wayangnya.

Tanggal 4 April 2009 beliau memasuki usia ke-90 tahun, suatu usia yang sangat langka bagi kebanyakan manusia saat
ini. Keadaan ini menjadi lebih mengagumkan bagi mereka yang sering berjumpa beliau. Sangat mudah baginya
mengingat kiprah awal karir, kesulitan saat mengadaptasi kitab Mahabhrata yang legendaris, hubungannya dengan
penerbit Melodie dan Maranatha yang membesarkan namanya, hingga perkembangan industri komik masa kini. Beliau
bahkan dapat mengoreksi suatu pernyataan atau informasi yang keliru. Berapa banyak manusia di usia lanjut sepertinya
memiliki kesehatan ingatan seperti RA Kosasih?
Mereka yang dibesarkan pada dekade 1950-an hingga 1980-an tentunya ingat betul karya-karya beliau: Mahabharata,
Ramayana, dan puluhan komik wayang lainnya. RA Kosasih juga yang menciptakan tokoh pahlawan super wanita, Sri
Asih (1953). Berpakaian selayaknya penari wayang orang dan mampu terbang, Sri Asih membasmi kejahatan. RA
Kosasih adalah komikus yang sangat produktif, termasuk membuat komik cerita rakyat.
Walau memulai karirnya sebagai komikus di usia yang terhitung sudah terlambat start, ia termasuk komikus yang paling
produktif. Sepanjang kurun waktu 1953 hingga awal 1990-an, catatan sementara dalam database KomikIndonesia.com
menunjukkan sekurangnya 114 judul terdaftar. Suatu jumlah yang fantastis dan sulit ditandingi, bahkan untuk komikus
generasi muda sekarang.
RA Kosasih bukanlah komikus pertama negeri Pertiwi. Sebelumnya sudah ada Kho Wan Gie dan Nasroen AS. Karir nya
pun sezaman dengan Delsy Sjamsumar, John Lo, Taguan Hardjo, dan Zam Nuldyn. Namun RA Kosasih lebih dikenal
luas di masyarakat, karena ia mampu menyadur karya sastra kelas berat menjadi komik yang notabene adalah produk
pop. Di tangan RA Kosasih wayang berhasil divisualisasikan secara sempurna, walau diakuinya ia mencontoh profil
wayang orang dan wayang golek.
“Saya dari kecil memang menyukai wayang golek dan terinspirasi untuk menjadikannya dalam bentuk
komik,” kenang RA Kosasih dalam suatu wawancara. Adalah penerbit Melodie Bandung yang mendorongnya
untuk membuat komik wayang. “Saat itu komik dihujat karena dianggap produk murahan dan berakibat buruk bagi
anak-anak. Saya tergerak untuk membuat komik cerita rakyat yang berisi pesan moral. Hingga akhirnya saya mencoba
membuat komik wayang Burisrawa Merindukan Bulan. Judul itu laku keras dan penerbit Melodie Bandung meminta saya
membuat komik wayang cerita panjang dan berseri. Saya terpikir kitab Mahabharata yang punya pesan moral dan sudah
mengakar dalam budaya Indonesia,” tambah RA Kosasih.
Menyadur kitab ini bukanlah pekerjaan mudah. RA Kosasih meminjam buku itu dari penerbit Balai Pustaka dan mulailah
corat-coret. Ia berusaha untuk tetap setia dengan pakem ceritanya, dan tidak menyampurnya dengan pakem wayang
purwa Jawa. Selanjutnya serial Mahabharata menjadi best seller (1954) dan berhasil mengubah citra komik menjadi
bacaan yang mendidik. Kesuksesan ini membuatnya berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai dan menekuni profesi
komikus.
Ambillah sebuah episode Mahabharata dan perhatikan setiap halaman baik-baik. Profil setiap tokoh tidak sulit
dibedakan. Walau ia mengadaptasi profil kostum dan perhiasan kepala (termasuk mahkota) dari wayang golek dan
wayang kulit, kita masih mampu membedakan tiap karakter dengan mudah. Dekorasi mahkota, perhiasan, dan pakaian,
divisualisasikan secara sederhana. Sangat berbeda dengan versi wayang kulit, golek atau wayang orang yang
aksesorisnya rumit. Perhatikan pula berbagai bentuk dan ornamen bangunan, mulai dari istana, gapura, hingga kereta
Komik Indonesia - All you need to know about Indonesian Comics
http://komikindonesia.com/ Powered by Joomla! Generated: 1 December, 2009, 08:50
kuda dan senjata. Tampak seakan terbuat dari batu dan kayu, dengan proses pengerjaan selayaknya candi puluhan
abad silam.
Perhatikan secara seksama gaya bahasa Indonesia yang digunakan. Sangat sederhana, lugas dan sarat makna. Ia
mampu menyadur bahasa sastra kelas berat menjadi bahasa pop yang mudah dicerna, seakan bahasa sehari-hari.
Pesan moral didalamnya pun tetap melekat dan pembaca dapat menyerapnya.
Terlihat pula RA Kosasih sangat mencintai pemandangan alam. Kebetulan cocok dengan lansekap dunia pewayangan
yang sering mengambil lokasi daerah pegunungan, sawah, tanah lapang, lautan, dan lainnya. Suatu pemandangan
universal dan seakan berada di lingkungan sekitar kita puluhan abad lampau. Di masa produktifnya, ia mampu
menyelesaikan tiga halaman per hari dengan honor (sistem royalti belum dikenal masa itu) yang jauh melampaui gajinya
sebagai karyawan.
Namun karya RA Kosasih tidak luput dari kekurangan. Cerita asli karangan beliau tidaklah cukup mumpuni bertanding
dengan karya saduran wayangnya. Tema yang kurang berbobot serta penokohan karakter yang kurang dalam, membuat
karyanya seperti Cempaka, Siti Gahara, dan lainnya hanya dikenal penggemar fanatik. Pujian masih dapat diberikan
pada karya saduran cerita rakyat seperti Panji Semirang, Sangkuriang, Salaka Domas, atau Ratih Danuwarsa, yang
disadur dengan pendekatan serupa Mahabharata.
Kesuksesannya membuka jalan bagi banyak seniman yang ingin mengadu nasib terjun menjadi komikus. Lahirlah suatu
industri buku baru di Indonesia, yaitu industri komik. Suatu produk bacaan yang sebelumnya tidak diduga bakal menjadi
industri. Sebelumnya komik hanya dikenal terbit harian, atau mingguan, di surat kabar seperti serial Put On (Kno Wan
Gie) dan Mentjari Poetri Hidjaoe (Nasroen AS) dengan format komik strip. Tapi RA Kosasih merubah segalanya. Sejak
terbitnya serial Sri Asih (1953), RA Kosasih memperkenalkan komik langsung dalam format buku. Bukan terbit
bersambung di media massa. Sejak saat itu entah sudah berapa ribu komikus Indonesia lahir, terinspirasi olehnya.
Banyak pula komikus yang mengadaptasi (lagi) komik wayang saduran RA Kosasih, seperti Mahabharata karya (alm)
Teguh Santosa diatas itu.
Saat ini beberapa komunitas komik berinisiatif membuat serangkaian acara untuk menghormati perjuangan dan jasa RA
Kosasih sepanjang tahun 2009 ini. Harapannya agar masyarakat ingat akan pengabdian beliau. Tidak sedikit
masyarakat Indonesia yang dibesarkan dengan karya beliau. Mulai dari pelajar, pekerja, seniman, ibu rumah tangga,
hingga politikus dan pemimpin pemerintahan. Nilai-nilai moral yang ia sampaikan masih membekas di hati.
Tidaklah berlebihan ketika budayawan Seno Gumira Ajidarma pernah berkata, "Siapapun yang menjadi presiden,
sebaiknya ia tidak lupa memberi penghargaan kepada RA Kosasih dengan bintang Mahaputera, karena memang orang
tua ini seorang mahaputera..." ("R.A. Kosasih: Sang Mahaputera" Seno Gumira Ajidarma, Majalah D'Maestro Sept 2004).
Selamat ulang tahun ke-90 Bapak Komik Indonesia!

Ditulis Oleh : SURYORIMBA

Dari : http://komikindonesia.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=131

R.A, Kosasih: Komik Teguh Lebih Bagus Gambarnya


TEMPO Interaktif, Jakarta -Kakek uzur berusia 90 tahun itu masih sanggup berjalan. Meski ditopang dengan tongkat, langkahnya pasti. Kulitnya keriput dan mengendur, namun senyumnya terus terkembang sejak ia hadir di peluncuran komik Teguh Santosa (almarhum). Dia menghadiri acara itu dengan didampingi sang cucu, yang lahir dari anak perempuan satu-satunya.

Penampilan komikus legendaris bernama Raden Achmad Kosasih ini begitu sederhana. Walau generasi muda pencinta komik menganggap dirinya sebagai Bapak Komik Indonesia, ia tetap bersahaja. Ia hanya bersetelan kemeja panjang bermotif batik, celana bahan berwarna gelap, dan sepasang sandal selop yang kelihatan tak baru lagi.

"Saya senang sekali ada di sini," ujarnya pertama kali. Setelah meladeni para penggemar yang meminta tanda tangan di sampul koleksi komik mereka, ia duduk dengan segelas air putih di meja restoran. "Syukurlah, komik sekarang sudah maju lagi," ia menambahkan.

Karya-karya Kosasih dikenal lebih dulu sebelum Teguh Santosa. Beberapa gubahan terkenalnya adalah Mahabharata, Baratayuda, dan Ramayana. "Tapi komik Teguh jelas lebih bagus gambarnya," ujarnya dengan rendah hati. Gambarnya padat dan ceritanya ringkas.

Berbeda dengan Teguh, Kosasih lebih senang bercerita dengan detail. Penyajian cerita per panelnya lengkap. Tapi yang pasti, Kosasih melanjutkan, cerita komik Teguh itu terinspirasi oleh komiknya. "Cuma gambarnya saja beda," katanya. Visual Teguh lebih oke.

Menurut penerbit, Andy Wijaya, dari segi cerita memang ada beberapa perbedaan antara Teguh dan Kosasih. Misalnya pada tokoh Adipati Karna, Teguh mengambil dua versi, dan Kosasih memilih versi India. Versi India menceritakan, setelah lahir dan keluar dari kuping Dewi Kunti, jabang bayi Adipati diambil oleh seorang kusir. Sedangkan dalam versi Jawa, bayi itu diambil oleh anak raja.

Teguh juga mengisahkan Antasena, yang mampu membunuh orang hanya dengan menjilat tapak kaki orang. Namun, Kosasih menghilangkan bagian itu. Gantinya, Kosasih menaruh tokoh Bambang Ekalaya yang bakal membunuh Arjuna, sedangkan Teguh tidak. "Menurut Teguh, itu cuma petikan buatan Jawa," kata Andy.

Aguslia Hidayah

Dari : http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2009/06/29/brk,20090629-184263,id.html

OOT: Bapak Komik Indonesia Pak RA KOSASIH dirawat di RS

Mohon ijin pak Moderator ....

Fri Jan 2, 2009 5:49 am

Dear All,

Sejak semalam Bapak RA Kosasih komikus legendaris Mahabharata dan
Ramayana dirawat di RS Int'l Bintaro ruang Merak Kamar 259 Jakarta.

Bagi yang ingin melihat foto beliau, silahkan mengklik
http://erwinprima.multiply.com/photos/album/72/RA_Kosasih
Foto tersebut diambil saat Komunitas KomikIndonesia.Com dan beberapa
member dari M-Tjersil mengunjungi kediaman beliau.

Beliau sudah berumur 89 tahun dan April 2009 genap berusia 90 tahun.
Hari ini beberapa teman komik akan menjenguk, kami kumpul di CITOS jam
14.00 kemudian meluncur menjenguk beliau.

Untuk meringankan beban beliau dan keluarga, kami KomikIndonesia.Com
menggalang dana untuk Pak Kosasaih. Bagi teman-teman yang ingin
berpartisipasi dapat mengirim/transfer ke rekening KomikIndonesia.Com

Rekening
BCA 287-1428664
Cabang Kebun Jeruk
atas nama Syamsuddin (Salah satu founder KomikIndonesia.Com)

Bagi yang sudah men-transfer bisa mengirim sms kepada salah seorang
dari kami:

1. Surjorimba Suroto HP:0816-1930393
2. Iwan Gunawan HP:0811-150825
3. Syamsuddin HP:0813-16468802
4. Saya sendiri HP:0815-86379218

Mulai besok, setiap hari kami akan mengupdate laporan penyumbang dana
di website KomikIndonesia.Com atau di milis komik_indonesia yakni
http://groups.yahoo.com/group/komik_indonesia/

Semoga Pak Kosasih cepat sembuh, mohon dukungan doa dari teman-teman.

Salam Komik,
Andy Wijaya
KomikIndonesia.com

Dari : http://groups.yahoo.com/group/Mstjersil/message/18499

Tokoh Komik RA Kosasih Sakit


JAKARTA, RABU -- Salah seorang tokoh komik terkemuka Indonesia, RA Kosasih (90 tahun, 4 April mendatang) kini berjuang keras untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Sejak Selasa (6/1) sempat dirawat inap di Rumah Sakit Internasional Bintaro, kelas III, tapi kemudian pihak keluarga membawanya pulang untuk rawat jalan, karena ketiadaan biaya.

Sejak lima hari terakhir sakit kakek RA Kosasih mengkhawatirkan, sesak napas dan komplikasi penyakit lainnya. Namun, pihak keluarga hanya mampu merawat di rumah. Biaya untuk rawat inap di rumah sakit tak ada, kata Adi Nandra, cucu RA Kosasih, yang kini merawatnya, ketika dihubungi Rabu (7/1) di Jakarta.

Menurut Adi Nandra, dalam kondisi sakit sekarang kakek RA Kosasih hanya bicara seadanya. Beliau tak bisa bicara lama dan menurut nasehat dokter harus dibatasi. Jumat (9/1) kembali harus dibawa ke rumah sakit untuk mengecek perkembangan, apakah sudah berangsur sembuh atau sebaliknya. "Pihak keluarga berharap kakek bisa lekas sembuh," ujar Adi.

Salah seorang sahabat RA Kosasih, Dwi Koendoro, mengatakan, RA Kosasih adalah komikus yang memperkenalkan wayang ke seluruh nusantara melalui karya-karya komiknya. Ia merupakan komikus yang pertama kali menerbitkan komik dalam bentuk buku di Indonesia. Karya-karyanya di era tahun 1960-an sampai 1970-an, sangat dikenal luas, katanya.

RA Kosasih semasa mudanya dikenal sebagai illustrator di Departemen Pertanian. Menjadi juru gambar buku-buku terbitan Departemen Pertanian di Bogor, yang ia mulai tahun 1939 sampai Jepang masuk dan kemudian menyerah. Setelah kemerdekaan, kosasih serius menekuni komik. Ketika bergabung dengan harian Pedoman Bandung tahun 1953, dua serialnya Sri Asih dan Siti Gahara, mendapat sambutan publik pada saat itu. Keduanya mengisahkan kehebatan dua orang wanita dalam menumpas kejahatan.

Data di Kompas menyebutkan, setelah komik serial Sri Asih dan Sri Gahara, mengalir karya-karya berikutnya seperti Sri Dewi, sang wanita perkasa yang kemudian disusul komik-komik lainnya, sampai akhirnya ia memilih lakon wayang sebagai sebagai tema sentralnya. Karya komik lainnya, Mahabharata dan Ramayana , yang diilhami buku Bhagavadgita, mendapat sambutan luas dan mengalami cetak ulang puluhan kali.

Dari : http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/07/20340117/Tokoh.Komik.RA.Kosasih.Sakit..

RA Kosasih Pelopor Komik Indonesia


RA Kosasih lahir di desa Bondongan, Bogor, sebagai bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya R. Wiradikusuma, seorang pedagang dari Purwakarta, sedang ibunya, Sumami, perempuan Bogor. Minat menggambar Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands Scholl, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Nah, disaat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap komik Tarzan dari potongan-potongan koran bungkus belanjaan.

Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan. Lulus dari Inlands School 1932, ia melanjutkan ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan. “Di HIS inilah saya mulai tertarik pada seni menggambar secara formal. Sebab, ilustrasi pada buku pelajaran Bahasa Belanda bagus-bagus. Buku catatan saya banyak yang cepat habis karena saya gambari,” kenangnya, tertawa. Selepas HIS ia tak meneruskan sekolah, meski kesempatan menjadi pamong praja menunggunya. Masa menganggur itu ia puaskan dengan menggambar dan menonton wayang golek.

Ia selalu pulang pagi, terutama jika lakonnya Arjuna, Bima, atau Gatotkaca. Karena kerapnya, ia sampai hapal semua cerita wayang, juga gaya para pedalang. “Jika pulang nonton, kepala saya masih selalu dipenuhi gambaran ceritanya. Saya lalu dapat ide, jika cerita itu dipersingkat tapi tetap berbobot, tentu disukai banyak orang.” Tapi, ide itu hanya sebatas ide. Tahun 1939, ia melamar sebagai juru gambar di Departemen Pertanian Bogor. Diterima, ia pun menjadi penggambar hewan dan tumbuhan. “Acap, serangga yang akan saya gambar harus saya lihat dulu di bawah mikroskop.” Gajinya cukup, meski tak mewah. Jepang masuk, kehidupan Kosasih menderita. Kebahagiaanya cuma satu, ia mendapatkan komik Flash Gordon.

Setelah merdeka, ia melihat banyak peluang di koran-koran. 1953, ia melamar kerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung, ia masuk malam, karena siang masih bekerja di Departemen pertanian. “Serial pertama saya lahir, Sri Asih, superhero wanita. Boleh dibilang, saya pengagum wanita. Ide itu terinspirasi oleh komik Wonder Women,” akunya. Sri Asih dicetak 3000 eksemplar, langsung tandas. Ia mendapat honor Rp 4.000,- sebulan. “Padahal, gaji saya sebagai pegawai Rp. 150,-.” Kesuksesan Sri Asih melecut semangatnya. Ia pun membuat serial kedua, Siti Gahara. Yang pertama pendekar wanita berbusana wayang, yang kedua berbusana Aladin. Juga laku keras.

Semangatnya kian membara. Imajinasinya tambah liar. Ia melahirkan kembali serial sejenis, Sri Dewi. Hebatnya, ia bahkan melahirkan edisi Sri Dewi Kontra Dewi Sputnik. “Saya mau menunjukkan, tradisi lawan modern tidak selalu dimenangkan yang modern. Sri Dewi harus tetap menang, ha-ha-ha...”

Tahun 1955, ia keluar dari Departemen Pertanian karena kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Order menggambar terus mengalir. Tapi, kenikmatan ijaminasi itu hanya berlangsung sepuluh tahun. Ketika Lekra berkuasa, komiknya dikecam karena mengandung unsur kebarat-baratan. Pihak Lekra malah membombardir pasar dengan komik keluaran RRC.

Tiras komik Kosasih turun drastis. Ia sedih, tapi tak menyerah. Merasa tertantang, Kosasih bergerak ke wayang. Komik Mundinglaya Dikusuma dan Ganesha Bangun pun lahir. Namun, komik Burisrawa Gandrung dan Burisrawa Merindukan Bulan yang laris. Pasar kembali ia kuasai. Ketika meminjam buku di Perpustakaan Bogor, matanya melahap Bhagawat Gita terjemahan Balai Pustaka. Ide baru pun muncul. Kepada penerbit Melodi, ia katakan ingin mengomikkan wayang dari versi asli. Segera Ramayana dan Mahabrata lahir. Hasilnya, luar biasa, mungkin rekor yang belum terpecahkan sampai saat ini.

Menurut hitungan Kosasih, dalam sebulan, satu seri komiknya dapat terjual 30 ribu eksemplar. Komikus lain pun terjun bebas mengikuti jejaknya. Tapi, trademark Kosasih tak tertandingi. Untuk tetap pegang pasar, ia terus berimprovisasi. Ia juga melahirkan superhero wanita lain, Cempaka, wanita berbaju loreng, kekar dan tinggi seksi. “Itu terinspirasi komik Tarzan,” akunya. Sayang, perubahan manajemen Melodi membuat komiknya tak lagi diperpanjang, hanya mengandalkan cetak ulang. 1964, ia pindah ke Jakarta, bekerja untuk Lokajaya. Tapi, masa keemasan komik mulai pudar. Serial Kala Hitam dan Setan Cebol hanya laku 2000 eksemplar. 1968, kesehatan Kosasih memburuk, ia pun istirahat setahun penuh, kembali ke Bogor.

Tahun 70-an, penerbit Maranatha Bandung memintanya menulis ulang Mahabrata. Tapi lucunya, karya ulang itu tak sama dengan yang pertama. Kosasih dinilai gagal. “Memang, jika menggambar saya mengikutkan suasana hati. Jadi, jika kadang menjadi berbeda sama sekali,” akunya. Memasuki tahun 1980-an, komiknya hanya beredar terbatas. Komik asing yang masuk, juga maraknya era komik silat Jan Mintaraga, Djairi dan Ganesh TH ikut memurukkannya. “Saya selalu membaca karya mereka, juga yang dari luar. Bagus-bagus sekali kok,” pujinya jujur.

Mulai 1985, Kosasih, pionir komikus wayang itu praktis dilupakan. Namanya hanya hadir dalam seminar dan sejatah komik. Orang bahkan jarang tahu, dengan tubuh renta uzur, ia masih acap duduk, sendiri, di meja gambarnya, berteman kalkir dan tinta cina, dan menggambar dengan jari yang gemetar. Kosasih masih beraksi, sendiri, di paviliun mungil Jl Pahlawan Bogor, seakan diminta menjadi saksi, zaman yang mengogahi seni tradisi.

Nama :
RA Kosasih

Lahir :
Bondongan, Bogor,
Jawa Barat , 1919

Pendidikan :
Inlands School 1932, Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan

Karir :
Penulis Komik,
juru gambar di Departemen Pertanian Bogor,
Komikus di harian Pedoman Bandung

Karya :
Sri Asih,
Siti Gahara,
Sri Dewi,
Mahabrata,
Ramayana,
Pandawa Seda,
Bharatayudha,
Raden Parikesit,
Srikandi

Dari : http://komikjadul.multiply.com/journal/item/16/RA_KOSASIH_-_Pelopor_Komik_Indonesia

R.A. Kosasih dari Wikipedia bahasa Indonesia


Raden Ahmad Kosasih (Bogor, Jawa Barat, 1919) adalah seorang penulis dan penggambar komik termasyhur dari Indonesia. Generasi komik masa kini menganggapnya sebagai Bapak Komik Indonesia.

Karya-karyanya terutama berhubungan dengan kesusastraan Hindu (Ramayana dan Mahabharata) dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari sastra Jawa dan Sunda. Selain itu beliau juga menggambar beberapa komik silat yang memiliki pengaruh Tionghoa, namun tidak terlalu banyak.

Kosasih mulai menggambar pada tahun 1953 lalu ia mulai berhenti dan pensiun pada tahun 1993. Kosasih terutama menggambar sketsa-sketsa hitam-putih tanpa memakai warna.

Kosasih memulai kariernya pada penerbit Melodi di Bandung. Namun karya-karyanya yang terkenal diterbitkan oleh Maranatha. Akhir-akhir ini pada dasawarsa tahun 1990-an karya-karyanya diterbitkan ulang oleh Elex Media Komputindo dan penerbit Paramita di Surabaya.

Karya:

* Sri Asih (1950)bisa dianggap sebagai superhero Indonesia yang pertama.
* Siti Gahara
* Ramayana
* Mahabharata

RA Kosasih: Tak Lagi Bisa Menggambar


Kamis, 9 Juli 2009 | 19:28:51
RA Kosasih: Tak Lagi Bisa Menggambar

Annida-Online--Rumah sederhana di Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan itu seperti tak berpenghuni. Senyap melingkupi. Cat tembok yang kusam, rumput di halaman pun mulai meninggi. Untunglah, ada seorang pemuda bercelana pendek muncul dari arah jalan raya, ramah menyapa. "Mencari siapa?" tanya Adin Nendra, mahasiswa semester akhir FISIP UMJ Ciputat, cucu RA Kosasih.
Rupanya benar itu rumah RA Kosasih (90), maestro komik yang kondang dengan komik-komik wayangnya. Untuk Sobat Nida yang masih remaja, barangkali nggak begitu kenal sama beliau. Tapi coba deh tanya om/tante atau orang tua kita, insya Allah mereka tahu dan bisa jadi termasuk 'anak-anak' yang 'dibesarkan' oleh karya-karya RA Kosasih. Sebelum komik wayang terkenal, telah lahir lebih dulu superhero pertama Indonesia dari goresan tangan dan imajinasi pria kelahiran Bogor, 3 April 1919 itu. Sebut saja Sri Asih (1952), Siti Gahara, Gundala Putra Petir, dan banyak lagi.
Hemm, apa kabar Eyang Kosasih? Kata Adin, sang cucu satu-satunya itu, 'Akung' (sebutan untuk kakek, dari kata Eyang Kakung, red) sehat. Memang, belum lama ia mesti menjalani perawatan di rumah sakit di Bintaro lantaran sakit jantung. Nida pun dipersilakan menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, Akung Kosasih pun datang dan lantang mengucap salam; 'Assalamu'alaikum'.
Aih, tak seperti yang Nida bayangkan, ternyata Akung Kosasih segar, penglihatannya awas di bawah lebatnya alis yang seluruhnya telah memutih. Kelihatan fit, meski sesekali ia terbatuk. Pendengarannya pun oke, hanya saja butuh kesabaran untuk berbincang dengan Akung Kosasih. Maklumlah, daya ingat beliau sedikit terkikis oleh usia. Pada Annida, Akung Kosasih banyak cerita perjalanan kariernya. Berawal sebagai ahli gambar hama/tumbuh-tumbuhan di jawatan pertanian di Bogor (zaman penjajahan Belanda dan Jepang), lantas ikut semacam sayembara menggambar komik yang diadakan sebuah penerbit di Bandung.
"Zaman itu sudah ada komik-komik strip di koran, komik heroik dari Amerika juga banyak. Tapi komik Indonesia yang dibukukan belum ada. Sampai Bapak baca iklan di koran, siapa yang punya cerita/gambar komik mau dibukukan sama penerbit yang juga toko buku Melodi di Bandung. Bapak kirim tuh komik Sri Asih, alhamdulillah diterima lalu diterbitkan," tutur RA Kosasih.
Akung Kosasih mengaku, karakter Sri Asih memang mengekor Wonder Woman.
"Ya ceritanya tentang jagoan perempuan yang bisa terbang. Kisah sama setting-nya dilokalkan, cerita kampung-kampung kita aja, tapi gambarnya dibikin seperti wayang orang," lanjutnya.
Untunglah, karya perdana itu langsung laku dan berbuntut lahirnya ratusan karya lain. Kosasih paling suka dengan komik wayangnya yang bersumber dari kisah Mahabharata dan Ramayana.
"Bapak gambar komik dengan sisipan filsafat yang mendalam. Isinya mengajarkan yang jahat akan kalah, yang baiklah pemenangnya. Ternyata ini disukai juga sama pembaca. Ada juga yang merujuk cerita tradisional terutama dari sastra Jawa dan Sunda. Komik silat yang terpengaruh cerita Tionghoa juga ada, tapi nggak terlalu banyak."
Menurut pengakuan Kosasih, sampai sekarang ia masih menerima royalti dari komik-komiknya yang dicetak ulang. Dari situlah, ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari di samping dibantu pula olah putri tunggalnya, Yudowati Ambiyan (50) dan menantu yang tinggal serumah dengannya. Kabar mengenai kesulitan biaya pengobatan di rumah sakit, ditepis oleh sang cucu.
"Nggak benar itu. Untuk biaya Akung berobat dan perawatan, kami dibantu sama penggemar-penggemar Akung. Malahan ditawari, Akung mau berobat di rumah sakit mana," ujar Adin, yang menemani obrolan Nida dan kakeknya.
Meski Kosasih termasyur dengan gambar-gambarnya, tak ada keturunan Kosasih yang mewarisi bakatnya. Dan sejak 'pensiun' dari dunia komik di tahun 1990-an, ia tak punya niat untuk menggambar lagi.
"Nggak bisa, tangan Bapak gemetaran kalau dipakai buat nggambar. Kalau hasilnya jelek, 'kan nanti nggak ada yang mau pakai gambar Bapak," ungkapnya.
Menggambar tidak, merangkai cerita pun enggak. Hari-hari Kosasih diisi dengan ibadah dan istirahat saja.
"Mau olahraga juga nggak kuat. Sudah, tiduran saja di kamar, sesekali baca tapi ya paling-paling cuma koran," lanjut Kosasih, yang sering didatangi penggemarnya yang kini telah menjadi pejabat dan orang-orang sukses. O ya, RA Kosasih pun selalu menyediakan waktu di hari Sabtu dan Minggu bagi penggemar atau koleganya.
"Belum lama Anton (pemilik toko buku online yang khusus menjual karya-karya unik dan antik) datang. Terus siapa itu penerbit yang dari Bandung sama Semanggi?" Kosasih mau cerita banyak, tapi lupa.
Nggak cuma tamu lokal, suami dari Almarhumah Lili Karsilah (meninggal tahun 2004 di usia 80 tahun), juga beberapa kali menerima tamu komikus dari Jepang lho.
Mengenai komik Jepang yang sekarang ini banyak digandrungi generasi muda kita, Kosasih berkomentar itu bagus. "Bapak rasa bagus, cucu juga suka baca komik Jepang kayak Doraemon itu. Zaman berubah ya, mengikuti selera pasar. Tapi dukungan pemerintah Jepang sama dunia komik baik. Nggak kayak pemerintah kita, komik di sini dianggap belum perlu. Harusnya pemerintah membantu untuk kemajuan, misalnya mendatangkan mesin-mesin yang mendukung, program bikin animasi," harapnya. [Esthi]

Dari : http://www.annida-online.com/annida_v_1/berita.php?id=48

Riwayat Hidup RA Kosasih


Lahir di Desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat, Kosasih adalah putra bungsu dari delapan bersaudara dari pasangan Raden Wiradikusuma. Diawali dari mengamati bungkusan sayur yang berisi potongan kartun Tarzan, Kosasih yang gemar nonton wayang golek itu sering mencoba melukis kartun, yang kemudian diberikan kepada tetangganya.

Tahun 1939 ia mulai melukis ilustrasi untuk buku-buku keluaran Departemen Pertanian Bogor. Debutnya sebagai pengarang komik dimulai pada 1953. Lulusan HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Pasundan itu memulai serial pertamanya Sri Asih, yang dicetak 3.000 eksemplar dan habis licin tandas. Setelah itu, Siti Gahara, Sri dewi, serial Mahabharata, Ramayana, dan... sejarah pun bergulir.

Kini, dalam usianya yang ke-80, jari-jarinya yang gemetar itu hanya sanggup memegang dan menikmati komik impor Jepang milik cucunya. Perjalanan usia—dan menurunnya produktivitas—membuat namanya meredup. Namun itu bukan satu-satunya sebab: komik Indonesia memang tidak terus-terusan berjaya. Kosasih mengaku, minat pembeli terhadap komik wayang mulai menurun selepas tahun 1980-an, bersamaan dengan banjirnya komik impor—Jepang terutama. Sejak 1993, Kosasih tak pernah lagi menyentuh pen dan tinta. Kini ia tinggal di kawasan Rempoa, Jakarta Selatan. Di lantai atas rumah itu, di sebuah ruang berukuran 5 x 20 meter, Kosasih dan istrinya menjalani hari-hari dengan tenang. Di sudut ruangan, ia menyimpan semua peralatan gambarnya dengan rapi untuk kenang-kenangan.

Untuk menunjang hidup, ia masih memperoleh royalti sekadarnya dari komik Mahabharata yang dicetak ulang penerbit Gramedia.

Dari : http://majalah.tempointeraktif.com/id/email/1999/03/30/LYR/mbm.19990330.LYR94201.id.html
Foto Dari : http://www.annida-online.com/annida_v_1/berita.php?id=48